Seknas Jokowi: Mudah-mudahan Jonan Dilempar Telur Busuk! – Kompas.com
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan
Seknas Jokowi: Mudah-mudahan Jonan Dilempar Telur Busuk! – Kompas.com.
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan
Seknas Jokowi: Mudah-mudahan Jonan Dilempar Telur Busuk! – Kompas.com.
PORTAL – Komite sekolah/Madrasah adalah sebuah lembaga mandiri yang lahir berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS), yang kemudian dijabarkan dalam Kepmendiknas No. 044/U/2002, dan sebagai acuannya adalah Lampiran II Kepmendiknas No. 033/U/2002 tersebut.
Komite Sekolah/Madrasah dibentuk dan berperan dalam upaya untuk peningkatan mutu layanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan (Pasal 56, ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003).
Tetapi dalam perjalanannya, terutama peran dan fungsi Dewan Pendidikan yang keberadaannya juga lahir bersama-sama Komite Sekolah pun ternyata masih belum efektif dan optimal. Apalagi tugas Dewan Pendidikan dalam memberikan dukungan pertimbangan dan sarana prasarana dalam pembinaan Komite Sekolah/Madrasah di tingkat nasional, propinsi, maupun daerah/kota, yang masih banyak kendala dalam implimentasi serta pemberdayaannya.
Sehingga banyak Komite Sekolah/Madrasah yang belum mengerti dan memahami untuk diselenggarakan secara optimal dan efektif sesuai maksud dan tujuannya didirikan, yang seharusnya menjadi wadah dalam menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan di satuan pendidikan, yang akan meningkatkan tanggung-jawab guru, orang tua dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan, serta menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.
Maka Ketua Umum BINA BANGUN BANGSA, Nur Ridwan merasa perlu mengingatkan kepada para pemangku kebijakan dunia pendidikan di negeri ini, agar segera memperbaiki keadaan ini supaya mutu pendidikan semakin lama semakin meningkat dan mampu melahirkan generasi tunas bangsa yang berkualitas prima dan unggul dalam menhadapi tantangan global yang semakin ketat dalam persaingan global, kini dan nantinya.
“Perlu perhatian pemerintah yang serius dan komprehensif mengenai hal ini, karena menyangkut masa depan bangsa dan negara, karena kemajuan bangsa dan negara akan berakar dari ilmu dan budaya serta karakter dari bangsa tersebut, yang dapat dibangun hanya melalui pembinaan dan pembangunan bidang pendidikan dan kebudayaan, yang dapat menciptakan kualitas dan kompetensi yang mampu dan mumpuni dalam menghadapi tantangan zaman ”, tegas Nur Ridwan.
Menurutnya bahwa keberadaan Komite Sekolah/Madrasah perlu diberdayakan secara efektif, sebagaimana mestinya, sebagai bentuk upaya dalam membangun sistem dan meningkatkan mutu kualitas pendidikan yang lebih baik dan lebih maju lagi.
“Maka perlu adanya evaluasi dan revitalisasi keberadaan Komite Sekolah/Madrasah selama ini, dengan inventarisasi dan pembinaan Komite Sekolah yang sudah ada, agar masyarakat semakin tahu maksud dan tujuan serta kemanfaatan keberadaan dari suatu Komite Sekolah”, harap Nur Ridwan.
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan
PORTAL INFOKOM – Musibah hilang kontaknya maskapai Air Asia QZ8501 di Selat Karimata, Kotawaringin Barat, pada Minggu (28/12) lalu menyita perhatian masyarakat, tak terkecuali sampai ke internasional. Seluruh media hampir setiap hari selalu mengawal pemberitaan mengenai perkembangan terbaru mengenai AirAsia QZ8501.
Atas ramainya pemberitaan AirAsia QZ8501, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyebut ada pihak-pihak yang diuntungkan dalam musibah tersebut. Jonan lantas menyebut media menjadi salah satu pihak yang diuntungkan.
“Kalau sekali terjadi kecelakaan, pasti di media akan ramai sekali. Kalau sekali kecelakaan ramainya minta ampun, yang paling untung media. Ada berita senang media untung, ada kecelakaan media lebih untung lagi, karena yang sana iklan sini iklan. Iklannya dapat banyak,” sebut Jonan di kantornya, Selasa (6/1) petang.
Terkait dengan tanggung jawabnya, mantan Dirut PT KAI ini kembali menegaskan pihaknya tak akan segan mencopot siapapun pihak yang harus bertanggungjawab dalam menjalankan tugasnya.
“Ya nggak peduli, kalau ada kecelakaan di laut (petugas yang berwenang) ya ganti, di pesawat juga begitu. Lebih baik nggak pernah berangkat daripada pergi nggak pernah sampai. Keselamatan itu bukan untuk main-main,” tegas Jonan. (chi/jpnn)
Menanggapi sikap Menteri Perhubungan tersebut, membuat Ketua Umum BINA BANGUN BANGSA perlu memberikan pernyataan untuk mengingatkan kepada pak Menteri sebagai pimpinan yang bekerja dan digaji oleh negara, agar memberikan tauladan yang baik kepada publik, apalagi jabatan pak Menteri yang sementara itu, adalah sangat berkaitan dengan segala urusan pelayanan, yang seharusnya mengedepankan budaya pelayanan publik yang berkharisma dan beretika.
“Kenapa ya zaman sekarang banyak orang pintar tapi kurang secara attitude ?”, kata Nur Ridwan.
Menurutnya seorang yang memiliki jabatan publik jangan sembarangan dalam berkata dan atau berperilaku seperti layaknya seorang bos dalam sebuah perusahaan, karena ini semua berkaitan dalam tata pemerintahan dalam suatu negara yang milik semua dan berhubungan dengan berbagai kepentingan, bukan milik perseorangan apalagi dijalankan secara ego pribadi yang semaunya saja.
Lagipula untuk memperbaiki manajemen dalam suatu kementerian urusan publik, bukanlah dengan cara arogan dengan ancaman pecat-memecat serampangan, karena semua harus melalui aturan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, daripada nanti malah dituding sebagai pimpinan yang arogan dan otoriter, yang suka bertindak intimidatif dan atau diskriminatif terhadap para bawahannya.
Dan aspek penilaian terhadap suatu kinerja dan kepemimpinan bukanlah karena didasarkan oleh banyaknya staf dan karyawannya yang salah dan banyak diganti. Tetapi pimpinan yang berhasil baik adalah yang mampu membawa perbaikan manajemen dan menciptakan iklim pekerjaan yang kondusif bagi seluruh personelnya, serta membawa hasil dan manfaat yang positif kepada publik dan lingkungannya.
“Tentang Keselamatan itu bukan untuk main-main, ya saya sangat setuju, karena ini menyangkut nyawa manusia, yang harus dijunjung tinggi penghormatannya”, kata Nur Ridwan.
Tapi menurutnya, seorang Menteri tidak perlu harus berlebihan dengan “show off” termasuk teriak-teriak dan memarahi setiap anak buahnya di depan publik, karena pada prinsipnya kesemuanya itu adalah tidak lain dari buah hasil manajemen kementerian itu sendiri, yang selama reformasi ini memang belum ada perbaikan yang signifikan.
“Lakukan saja evaluasi dan koreksi secara baik dan benar. Perbaiki dan Tingkatkan Pelayanan, yang sudah menjadi tupoksinya, publik hanya ingin melihat itu”, tegas Nur Ridwan
Karena masalah tidak akan selesai hanya dengan pencitraan marah-marah yang cuman mau dibilang sebagai pimpinan yang tegas, apalagi notabene sebelum jadi seorang Menteri pun, Pak Jonan pun berangkat dari lingkungan birokrat yang memang sudah terbiasa dengan budaya dan mental kerja model begitu.
“Dan anggap saja bahwa kejadian ini adalah bagian dari pembenahan tersebut, tanpa terkecuali bagi seorang Menteri sekalipun”, tegas Nur Ridwan lagi.
UKM Nusantara – Ahmad Pagessa adalah satu dari sekian banyak penggiat UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang peduli terhadap kondisi ekonomi daerahnya. Sebagai sosok penggerak pemberdayaan masyarakat, Ahmad Pagessa sangat berharap agar masyarakat daerah, terutama tempatnya saat ini dia tinggali bersama keluarganya, Kota Palu bisa lebih maju lagi, sekelas dengan masyarakat kota besar lainnya di negeri Nusantara ini, apalagi mengingat Kota Palu sudah menjadi Kota dengan predikat Kota Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus, pada era Walikota Palu, Rusdi Mastura dan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola ini.
Karena menurut pria kelahiran Makassar ini, semua masyarakat daerah pastinya ingin hidup yang lebih baik lagi, hanya saja mereka masih diselimuti olah pikir yang konservatif, yang selalu saja berpendapat bahwa bersekolah hanya untuk menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran saja. Tanpa mau berpikir untuk menjadi petani, peternak, dan atau nelayan yang berhasil, karena dianggap bukan pekerjaan atau mata pencaharian yang eksklusif.
Pandangan awam masyarakat daerah bahwa untuk menjadi pengusaha, harus dibutuhkan ketrampilan dan modal yang besar, sehingga membuat mereka selalu takut untuk memulai usaha bisnisnya, karena takut rugi dan harus kehilangan modalnya.
Padahal lapangan pekerjaan sebagai pegawai negeri dan kantoran selalu saja terbatas, tidak bisa menampung semua kebutuhan bagi kelompok usia kerja yang telah lulus sekolah dan kuliah, sehingga apabila tidak diantisipasi, maka akan menambah jumlah pengangguran, yang malah dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial dan budaya daerah tersebut.
Paradigma lama tersebut, membuat Ahmad Pagessa bertekad untuk mencoba menghilangkannya. Dengan berbekal semangat, pria yang ramah ini berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan memberikan penyuluhan dan motivasi kewirausahaan, sebagai bentuk pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat dan mahasiswa serta kelompok generasi muda Kota Palu. Lengkap dari hal teori hingga kepada contoh prakteknya, tentang manajemen produksi, penjualan dan pemasaran dari suatu produk dan jasa UMKM, terutama di bidang ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya, khas Palu dan daerah Sulawesi Tengah, yang hingga kini masih belum optimal untuk ditumbuhkembangkan.
Dengan dibantu kawan-kawannya dalam perwakilan organisasi BINA BANGUN BANGSA Kota Palu, Pagessa giat sekali mensosialisasikan pemberdayaan masyarakat tentang UMKM ini, yang hanya berharap agar masyarakat umum mengetahui dan memahami tentang wawasan entrepreneurship, yang akan membuat mereka jadi berani dan senang menjadi pelaku UMKM, yang secara otomatis pula akan mengurangi tingkat pengangguran dan termasuk sebagai bentuk upaya nyata dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat yang masih tergolong daerah tertinggal ini.
Banyak kelompok kerja kreatif yang telah berhasil dikembangkanya, bahkan ada yang sudah menghasilkan beragam produk karya nyata seperti bawang goreng, minyak kelapa, makanan ringan, sabun mentimun dan handycraft berbahan kayu dan rotan serta bahan baku daur ulang. Dan apalagi sudah mulai pula dipasarkan pula, walaupun masih dalam stok yang terbatas, karena terkendala masalah klasik, yakni ketersediaan perlengkapan dan peralatan mesin serta permodalannya.
Maka diharapkannya agar Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu, pun memberikan perhatian dan bantuannya terhadap kegiatan ini, demi terwujudnya gerakan percepatan pembangunan perekonomian masyarakat yang berbasis pemberdayaan UMKM ini, yang nantinya pun akan berdampak positif kepada PAD (Pendapatan Asli Daerah) nya, seiring dengan kemajuan ekonomi masyarakatnya.
UMKM Nusantara – Ikan Terbang, penduduk setempat menyebutnya sebagai ikan tuing-tuing, memiliki sirip yang khas yang berbentuk layar. Ikan ini memiliki nama latin parexocoetus brachypterus. Ikan yang termasuk kedalam famili exotidae ini memiliki ciri yang khas, yaitu sirip dadanya yang besar yang menyebabkan ikan jenis ini dapat meluncur terbang di udara walau secara singkat. Atau mungkin lebih tepatnya adalah melayang di atas permukaan air. Mekanisme terbang ini sebetulnya adalah mekanisme ikan tersebut untuk pembelaan dirinya dari kejaran pemangsa. Jarak terbang yang ditempuhnya biasanya tidak jauh, sekitar 50an meter, namun fakta lain menyebutkan bahwa ikan ini, dengan memanfaatkan tenaga gelombang laut, dapat terbang mencapai jarak sekitar 400 meter. Wah … luar biasa sekali ya. …..

Namun, bukan soal kehebatan ikan tuing-tuing yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini, tetapi tentang ikan,yang kebetulan menjadi ikon salah satu tv swasta di Indonesia, juga menjadi ikon wisata kuliner di provinsi Sulawesi Barat.

Wisata kuliner ikan tuing-tuing atau ikan terbang ini bisa dijumpai jika kita melewati jalan trans Sulawesi, saat kita melalui Desa Somba, kecamatan Sendana, Kabupaten Majene (bacanya: maje’ ne’) yang termasuk kedalam Provinsi Sulawesi Barat. Di wilayah ini berjejer warung-warung penjual ikan terbang, di kiri dan kanan jalan. Warung-warung tersebut sebagian besar buka selama dua puluh empat jam. Jadi jam berapapun kita melewati daerah tersebut, kita bisa langsung mencoba menikmati hidangan ikan tuing-tuing ini.

Desa Somba di wilayah kabupaten Majene ini dapat ditempuh sekitar 135 km atau sekitar 3 jam perjalanan dari Mamuju – ibukota provinsi Sulawesi Barat dan kurang lebih 6-7 jam perjalanan dari Makassar – Ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Sementara Majene, jika anda ingat, kabupaten ini pernah mencuat namanya saat peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air yang hingga sekarang bangkai pesawatnya tidak dapat ditemukan.

Tanda-tanda lain, selain keberadaan warung-warung penjual ikan terbang itu, adalah kepulan asap di sepanjang jalan itu yang sudah tampak dari kejauan mengepul dari masing-masing warung penjual ikan terbang. Asap yang terbentuk adalah karena cara memasak ikan terbang yang khas, yaitu melalui pengasapan, bukan digoreng maupun dibakar. Ikan terbang akan matang akibat panas yang timbul dari proses pengasapan tersebut. Cara mengasapinyapun mudah. Sebelum diletakkan di atas rak pengasapan yang terbuat dari bambu, ikan terbang terlebih dahulu direndam di air garam. Setelah itu diletakkan di atas rak pengasapan hingga ikan berwarna kecoklatan. Ikan asap yang sudah matang ini bisa langsung dimakan, atau disimpan sambil menunggu pembeli. Jika sudah datang pembeli, ikan cukup dihangatkan di atas asap sebentar saja, dan ikan siap untuk dihidangkan. Kayu yang digunakan untuk mengasapi ikan tuing-tuing ini biasanya adalah kayu bakau atau kayu mangrove. Dan ikan tuing-tuing ini memang tidak enak jika digoreng maupun dibakar, mengingat sisiknya yang tebal. Jika melalui proses pengasapan, pada saat memakannya, sisiknya mudah dibuka dan daging yang tercium menjadi lebih harum.

Warung-warung ini, konon mulai berkembang pada tahun 2000an dan kini terdapat hampir lebih kurang 70an buah warung yang menyediakan penganan ikan terbang. Warung yang berada di kiri jalan trans Sulawesi (dari arah Makassar menuju Mamuju) berada di pinggir laut, tempat dimana ikan tuing-tuing ini didapat. Ikan terbang asap dikonsumsi dengan burasa (seperti lontong tetapi dimasak santan dan disajikan setangkup-setangkup, di Jakarta maupun pulau Jawa, biasa dikenal dengan sebutan buras) serta sambal khas Majene, yang terbuat dari cabai merah diulek bersama-sama bawang merah dan tomat, dibubuhi sedikit garam, kemudian sambal ini disiram minyak panas, dan pada saat akan dinikmati, jangan lupa untuk mengucuri dengan sedikit perasan jeruk nipis, dan wuih….. rasanya … sungguh dapat membuat lidah bergoyang terus tak mau berhenti menikmati kuliner ikan terbang yang khas dan lezat ini.

Rasa khas yang lezat itu yang saya dan dua orang teman mencoba menikmati kuliner ikan terbang di salah satu warung beberapa waktu yang lalu, pada saat melakukan perjalanan dari Makassar ke Mamuju. Sebelumnya saya memang pernah mendengar tentang ‘kewajiban’ untuk mencicipi menu khas Majene, ikan terbang asap, karena kelezatannya yang khas, jika kita dalam perjalanan menuju ke kota Mamuju.
Kesempatan untuk pergi ke Mamuju pun datang. Saya dan teman yang pergi bersama-sama akhirnya bertekad sebelum berangkat bahwa kami harus dapat mencicipi hidangan khas tersebut, untuk menghilangkan rasa penasaran kami. Pada waktu itu jam telah menunjukkan waktu sekitar pukul 3 dinihari. Kami mampir di warung yang masih buka, tandanya adalah lampunya masih menyala, disamping kepulan asapnya dari tempat pengasapan ikan terbang. Waktu yang masih dinihari tidak menyurutkan niat kami mencicipi hidangan khas Majene ini. Ditambah rasa penasaran kami yang belum pernah menikmati hidangan ikan terbang. Dan betul saja, walau rasanya perut ini agak aneh untuk ‘makan berat’ di pagi hari buta, tetapi kelezatan dan kekhasan kuliner ikan terbang ini menghilangkan rasa aneh kami. Kami benar-benar menikmatinya, kami coba semuanya: ikan terbang, sambal, burasa dan cumi-cumi. Dan kami akui bahwa kuliner ini sangat lezat, sangat yummy.

Soal harga, tidak usah khawatir, cukup bersahabat kok. Malah menurut saya cukup murah. Lihat saja informasi berikut ini, untuk sepiring ikan terbang yang berisi tujuh ekor, dihargai sepuluh ribu rupiah. Sementara setangkup burasa (dua potong burasa) dihargai dengan harga seribu rupiah saja. Oya, sebagai pelengkap, ada sajian cumi-cumi juga yang cukup dimasak dengan cara tumis saja, dan disajikan bersama ikan tuing-tuing asap. Hidangan cumi-cumi ini menambah lezatnya ikan terbang yang disajikan (harga tumis cumi-cumi ini berkisar antara 7500 – 10.000 per mangkok).

Sebagai oleh-oleh keluarga di rumah, selain membawa ikan terbang yang sudan matang – berikut sambalnya, ada pula yang sudah dikeringkan/diasinkan, sudah dikemas dalam bentuk kotak-kotak plastik dan siap untuk dibawa pulang. Harganya pun tetap bersahabat, satu kotak ikan kering cukup dihargai dengan dua puluh ribu rupiah saja per kotaknya. Cukup murah, kan?

Jadi, jika anda ingin merasakan kuliner khas Majene, Sulawesi Barat, sajian khas ikan terbang asap adalah pilihan yang tepat dan tampaknya akan lebih afdol jika kita menikmatinya di tempat asalnya, sambil menikmati suasana kabupaten Majene tentunya – sebagai bagian dari Indonesia travel.
Makassar, September 2013
(Foto-foto: dokumentasi pribadi)
Ada banyak bisnis rumah tangga yang bisa dilakukan oleh setiap rumah tangga di Indonesia. Salah satunya adalah Bisnis Sosis Bandeng.
Jika selama ini kita sudah sangat kenal dengan ikan bandeng dan produknya, diantaranya bandeng presto. Kali ini pengasuh pojok konsultasi UMKM ini akan menyorot bisnis sosis bandeng. Ternyata usaha ini sangat menjanjikan, omzet bisa mencapai Rp. 15 juta per bulan. Kenyataannya itulah yang dialami oleh Bapak Anton yang sudah menekuni bisnis sosis bandeng sejak tahun 2006. Bagaimana dan apa itu bisnis sosis bandeng silahkan simak uraian berikut ini :
Amati Tiru Modifikasi (ATM) Bisnis Sosis Bandeng
Sosis bandeng, bisa menjadi alternatif usaha bagi pelaku UKM, khususnya di lokasi yang mana ikan bandeng segar mudah atau gampang diperoleh. Katakanlah di pusat-pusat budidaya ikan bandeng, pada tambak yang banyak tersebar di sepanjang pantai. Atau di situ dan danau yang mengembangkan ikan bandeng melalui sistem Keramba Jaring Apung.
Anton adalah seorang pelaku UKM yang sudah berhasil mengelola usaha ini secara industri rumah tangga (home industry) sejak tahun 2006. Dengan berbekal semangat dan modal seadanya Anton berhasil mengembangkan bisnis sosis bandeng hingga saat ini telah menghidupi keluarga dan sejumlah karyawannya. Maka diapun ingin berbagai pengalaman kepada yang lain agar bisa juga berhasil seperti dia.
Pengusaha : Anton (nama lengkap Imam Tantowi), umur ± 35 tahun
Alamat : Jl. Hembo Gedung Musholla I No. 19 RT 03/07 Jatimulya Bekasi Timur
Merek Dagang : Sosis Bandeng merek “IZZAN”
Keunggulan Produk : Tanpa bahan pengawet, bebas kolesterol ,dipasarkan dalam keadaan beku. Sosis menyerupai ikan bandeng, bukan onjong bulat seperti sosis biasa. Bila disimpan dalam freezer sosis bandeng itu bisa bertahan hingga tiga bulan. Sedangkan kalau di dalam kulkas awet selama sepekan. Sementara dalam suhu normal bisa bertahan selama dua hari.
Mulai usaha : Menjalankan usahanya sejak tahun 2006 di rumah sewa di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat.
Latar belakang usaha : Perusahaan tempat bekerja gulung tikar akhirnya memutuskan menjadi wirausaha sosis bandeng.
Modal awal Rp. 500.000 dipinjam dari keluarga. Sebagian untuk modal kerja, sedangkan peralatan produksi memanfaatkan peralatan dapur yang dimiliki.
Tips Sukses : Berani memulai, pantang menyerah, lakukan inovasi, maksimalkan kemampuan dan peralatan yang dimiliki.
Bahan baku : ikan bandeng hitam segar, harga Rp. 15.000 s/d Rp.17.000 per kg
Pemasaran : Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Makassar. Semua dia pasarkan dengan bantuan delapan agen penjualan. Pada awalnya penjualan melalui jaringan teman yang biasa menjual produk. memasok ke pasar modern seperti Hero, Giant, Farmers Market Kelapa Gading, dan Mal Pondok Indah I. Termasuk menjual ke beberapa restoran Sunda di Jabodetabek.
Harga jual produk ke supplier : Rp. 12.500 yang di bungkus, isi satu ekor bandeng (berat 185 gram) dan Rp.11.000 bila dikemas dengan plastik hampa udara.
Keuntungan : Rp. 15 juta per bulan
Produksi : dalam sebulan mampu membuat 1.400 kardus sosis bandeng. Satu kardus berisi satu bandeng seberat 185 gram (gr). Harga di pasaran (diterima konsumen) Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kardus,” ujarnya. Omzet mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta perbulan.
Cara Pembuatan Sosis Bandeng (secara garis besar)
Selamat mencoba.
Salam Sukses UKM Indonesia, UKM Nusantara…